Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Usaha es jeruk orang asli Papua

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

JHOMINA K. Amokhoso, ibu dua anak asal Kabupaten Yahukimo ini, memilih menekuni usaha jeruk peras Kota Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Saya sudah menekuni usaha ini sejak Oktober 2017, sebelumnya saya usaha kios di rumah dan itu juga masih jalan,” katanya, ketika ditemui Jubi, Selasa, 16 Oktober 2018.

Usaha es jeruk orang asli Papua 1 i Papua

Usaha tersebut dibuka suaminya. Sehari-hari ada tiga adiknya yang ikut membantu berjualan. Karena ketiganya sedang kuliah, ia dan suaminya yang lebih sering berjualan.

Amokhoso mengaku tidak mengedepakan gengsi untuk membuka usaha. Baginya yang penting adalah mencoba dan bangkit untuk bersaing dengan pemilik usaha lainnya di dunia bisnis.

“Ini kita punya tanah, kenapa orang pendatang yang datang baru berjualan di atas kita pu tanah, dan juga sesuai dengan visi misi Bupati Jayapura agar ‘terwujudnya manusia Jayapura yang terdepan, berkualitas, dan bermartabat,” ujarnya.

Usaha jeruk peras Amokhoso dijual di Jalan Pos 7, di depan toko Hollandia, atau berkeliling. Pendapatan tergantung stok buah yang dibawa. Biasanya ia membawa buah satu karung 25 kg dan berjualan dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 atau 5 sore.

Loading...
;

“Paling tinggi sehari dapat Rp 800 ribu, paling rendah Rp 400 ribu, jadi sebulan kalikan saja, kalau rata-rata Rp 400 ribu, sebulan berarti Rp 12 juta,” katanya.

Hasil usaha ia gunakan untuk membiayai anak sekolah dan kebutuhan rumah tangga.

Menurutnya usaha berjualan seperti jeruk peras tidak seperti PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang bekerja setiap hari, kemudian sekali sebulan ada uang gaji. Tapi menjalankan usaha setiap hari harus berjualan dan juga setiap hari menghasilkan uang.

“Intinya itu kita tekuni saja, karena yang bikin kita malas itu gengsi saja, membuat kita tidak bisa maju, dan usaha begini kan tiap hari ada uang, yang penting kitanya saja,” ujarnya. 

Seorang pelanggan jeruk peras Amokhoso, Ketty, mengatakan usaha yang ditekuni perempuan Papua tersebut perlu dicontoh yang lain.

Menurut Ketty, dengan usaha yang dijalankan Amokhoso menandakan bahwa OAP juga mampu bersaing dengan non-OAP.

"Mama senang sekali belanja kepada mereka, dengan begini kita tidak ketinggalan," katanya. 

Es jeruk Amos Hamohoso

OAP penjual minuman jeruk peras lainnya adalah Amos Hamohoso. Pemuda berusia 22 tahun yang juga berasal dari Yahukimo tersebut berjualan es jeruk di depan toko Hollandia Sentani.

Untuk mengisi waktu kosong, bermodal keberanian dan percaya diri, ia menjalankan usaha jeruk peras. Alatnya diberikan oleh kakaknya.

Walau pada awal berjualan ada rasa malu dan terlihat seperti sesuatu yang baru, namun ia tetap tekun selama satu bulan berjualan.

“Kakak saya membeli alat dan dipercayakan kepada saya untuk berjualan. Awal berjualan itu ada ragu sedikit, apalagi bagaimana pandangan orang terhadap saya yang berjualan ini to, tapi puji Tuhan lama-lama sudah terbiasa,” katanya kepada Jubi.

Hamohoso mengatakan selama ia berjualan di depan toko Hollandia pelanggan berdatangan dan bahkan ada juga yang suka pesan untuk diantarkan.

“Saya berjualan di sini karena dikasih tempat di sini dan tidak berpikir untuk berjualan di tempat lain,” katanya.

Hamohoso berjualan dari pagi hingga sore. Namun karena berjualan minuman tentu tergantung cuaca.

“Pembeli itu tergantung cuaca saja, kalau cuaca bagus pembeli banyak yang datang, kalau cuaca kurang bagus itu sedikit saja,” ujarnya.

Sekali berjualan ia membeli jeruk seharga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu di Pasar Pharaa. Pada awal berjualan pendapatnya Rp 500 ribu, kemudian makin lama makin meningkat.

Sepeda motor menjadi alat transportasi utama untuk membawa mesin pemeras jeruk. Selain itu ada satu termos berisi es batu yang sudah dihancurkan dan gula yang sudah dilarutkan di dalam galon. Ia menjual segelas Rp 5 ribu.

“Pendapatan kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah, uang jajan adik-adik begitu,” katanya.

Hamohoso berkeingginan usaha yang ia jalani bisa besar dan berkembang.

Meta Kopeuw, warga Sentani, melihat apa yang dilakukan anak muda Papua seperti Hamohoso menjadi kebanggaan tersendiri.

“Saya salut dan saya bangga kepada mereka karena selama ini yang saya lihat itu orang pendatang yang berusaha,” katanya.

Kopeuw berharap banyak anak muda Papua lagi melakukan hal yang sama, yaitu terjun ke dunia usaha.

“Sebenarnya kita bisa, bukan tidak bisa, cuma butuh kesabaran dan ketekunan saja, itu kuncinya,” ujarnya. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top