TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Usai pengedropan pasukan di Maybrat, 17 sekolah berhenti beraktivitas dan warga sulit akses internet

Papua
Aparat TNI melakukan penyisiran di wilayah Distrik Aifat Timur kabupaten Maybrat. (Jubi/Dokumentasi Pendam XVIII/Kasuari)

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Aktivis hukum dan HAM di Papua mengatakan ada belasan sekolah terhenti aktivitasnya, serta para aktivis di daerah itu kesulitan berkomunikasi guna memastikan kondisi warga sipil usai pengedropan pasukan, untuk mengejar para pelaku pembunuhan terhadap 4 prajurit TNI di Koramil Persiapan Kisor, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat.

“Ada 17 sekolah. Terdiri dari 15 SD dan 2 SMP berhenti (beraktivitas). Anak-anak ikut orang tua lari ke hutan dan ke distrik tetangga,” ungkap Aris Howay, aktivis LBH Papua, menjawab pertanyaan Jubi dalam jumpa pers di LBH Papua belum lama ini.

Pihaknya belum bisa memastikan jumlah siswa yang mengungsi dan keseluruhan sekolah yang tutup, lantaran kesulitan mengakses informasi. Menurutnya jaringan internet terkendala setelah sejumlah foto pengungsi tersebar di internet.

“Jumlah siswa kami belum dapat. Akses internet putus. Beberapa hari setelah pengedropan pasukan, kami sulit akses internet sehingga susah dapat data,” kata pria yang membidangi kebebasan berekspresi di LBH Papua ini.

Nicodemus Momo, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik St Efrem Kota Jayapura membenarkan, bahwa saat ini mereka kesulitan mengakses internet di wilayah pedalaman di Provinsi Papua Barat itu. Terutama akses internet di wilayah Aifat Timur yang terdiri dari 5 distrik.

“Ada internet tetapi sementara ini internetnya gangguan. Saat kejadian di Maybrat itu langsung jaringan internet gangguan, khusus wilayah Aifat Timur,” katanya kepada Jubi, Sabtu (11/9/2021).

Kondisi ini, kata dia, berbeda dari sebelum kejadian pembunuhan 4 prajurit TNI. “Sebelumnya akses internet lancar seperti biasa.”

Menurutnya, dampak dari sulitnya mengakses internet berujung pada sulitnya berkomunikasi dengan para penggungsi atau warga di kampung.

“Komunikasi di sana agak sulit, apalagi untuk berkomuniksi dengan anak-anak di kota. Sampai sekarang kita belum tahu pasti jumlah yang lari ke hutan itu berapa orang dan sebagainya, karena data yang kawan-kawan lain lapor itu hanya berdasarkan data sensus penduduk distrik dan kampung di sekitar,” katanya.

John Mambrasar, advokat muda yang menyusun laporan kondisi para pengungsi mengatakan, pihaknya tidak melakukan pemantauan terkait akses internet di sana.

“Saya tidak pantau internet, tetapi beberapa kali saya bisa hubungi kawan saya di ibu kota Kabupaten Maybrat, tetapi katanya di Aifat Timur yang sulit,” katanya.

Seorang warga Maybrat berinisial WA, membenarkan kondisi jaringan internet di wilayah itu bermasalah pascapembunuhan 4 prajurit TNI AD. “Agak sedikit masalah, jaringannya gangguan,” katanya. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us