Follow our news chanel

Previous
Next

USTJ buka Posko Pembebasan Korban Rasisme

Papua
Ilustrasi, aksi solidaritas terhadap tujuh tapol Papua, Sabtu (13/6/2020) - Jubi/Hengky Yeimo.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, kembali mengelar aksi solidaritas terhadap tujuh tahanan politik Papua. Selain mimbar bebas, mereka membuka Posko Pembebasan Korban Rasisme terhadap Papua.

Mimbas bebas digelar di Lapangan Merah Hijau, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Pembukaan aksi tersebut molor sekitar 1,5 jam dari jadwal karena akses Jalan Raya Abepura-Sentani mendapat penjagaan ketat dari aparat. Penjagaan mereka juga hingga ke lorong masuk kampus USTJ.

“Mimbar bebas dan pembukaan posko dijadwalkan pada pukul 10.00 (Waktu Papua), tetapi baru bisa dimulai sekitar pukul 11.30 (Waktu Papua). Peserta aksi sebanyak 12 orang bergerak dari Sekretariat BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) USTJ menuju Lapangan Merah Hijau,” kata koordinator aksi Ones Pusop, Sabtu (13/6/2020).

Peserta aksi dalam orasi dan pernyataan sikap mereka, mendukung pembebasan tanpa syarat terhadap tujuh tahanan politik (tapol) Papua. Para mahasiswa menilai ketujuh tapol tersebut merupakan korban praktik rasisme terhadap Papua.

 

“Itu merupakan ketidakadilan dan diskriminasi (dalam penegakan) hukum. Tuntutan jaksa terhadap mereka melukai hati kami dan Rakyat Papua,” kata Pusop, yang juga Wakil Ketua BEM Fakultas Ekonomi Sastra dan Sosial Politik USTJ.

Jaksa Penuntut Umum menuntut tujuh tapol Papua dihukum selama 5-17 tahun karena dianggap makar. Tujuh tapol itu ialah Alexander Gobay, Ferry Kombo, Hengky Hilapok, dan Irwanus Uropmabin. Kemudian, Buchtar Tabuni, Steven Itlay, dan Agus Kossay.

Loading...
;

Gobay ialah Presiden Mahasiswa USTJ, dan Ferry Kombo ialah mantan Ketua BEM Universitas Cenderawasih. Mereka saat ini terancam hukuman selama 10 tahun penjara. Adapun Hilapok bersama Uropmabin terancam hukuman lima tahun penjara, dan Tabuni terancam hukuman 17 tahun penjara. Kemudian, Itlay dan Kossay, terancam hukuman 15 tahun penjara.

Aksi mimbar bebas BEM USTJ dilanjutkan dengan pembentukkan Posko Pembebasan Korban Rasisme terhadap Papua. Posko itu berlokasi di sekretariat mereka.

Pembantu Rektor III USTJ Ishak Rumbarar menyatakan setiap orang seharusnya berempati terhadap warga Papua yang menjadi korban praktik rasisme. Kejadian di Amerika Serikat diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua kalangan.

“Semua harus merasa (senasib) sepenanggungan. Tidak boleh ada pihak saling menuduh, dan merasa paling benar,” kata Rumbarar. (*)

 

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top