Pejabat terkait sebut virus korona varian Delta belum ada di Papua

papua
Petugas di salah satu rumah sakit di Jayapura mengambil sampel untuk pemeriksaan virus korona. - Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR secara daring, Selasa, 13 Juli 2021 mengungkapkan virus korona varian Delta terdeteksi sudah tersebar di 11 daerah di luar Pulau Jawa. Salah satu daerah yang disebutnya adalah Papua dengan satu kasus.

Seperti dikutip cnnindonesia.com, Menteri Budi mengatakan sebelas daerah tersebut harus diamati secara ketat, karena pasien yang terinfeksi varian Delta tersebut berpotensi dibawa ke Jawa bila fasilitas kesehatan di daerahnya tak mampu lagi menampung.

Pernyataan Menteri Budi itu tidak sama dengan pejabat terkait di Provinsi Papua. Jubi melakukan konfirmasi kepada juru bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, pimpinan Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Provinsi Papua, dan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke pada Rabu, 14 Juli 2021.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Adrian Soemoele mengatakan belum ditemukan bukti Covid-19 varian Delta ada di Papua.

“Belum bisa dibuktikan,” kata Soemole membalas pesan WhatsApp Jubi.

BACA JUGA: Litbangkes Papua sedang teliti sampel dugaan virus korona varian Delta

Kepala Balai Litbangkes Provinsi Papua dr. Antonius Oktavian mengatakan sejauh ini yang sedang dikerjakan di pusat adalah sampel dari Merauke yang diduga varian Delta, namun masih dalam tahap analisis.

Loading...
;

“Kalau Merauke mereka langsung kirim ke pusat, tetapi saya konfirmasi siang ini (Rabu, 14 Juli 2021) juga masih tahap analisa, belum selesai,” katanya.

Oktavian mengatakan uji sampel varian Alpha maupun varian Delta memakai metode yang sama, hanya dalam proses analisis saja akan diketahui pola yang berbeda.

“Pola yang berbeda diurutan RNA-nya,” ujarnya.

Saat ini, kata Oktavian, sampel terduga yang sudah ada di Laboratorium Litbangkes Papua sebanyak 12 sampel. Rinciannya, 10 sampel dari Timika dan dua sampel dari Rumah Sakit Provita, Jayapura. Akan ada tiga sampel terduga lagi yang akan dikirim dari Rumah Sakit Bhayangkara yang direncanakan Kamis, 15 Juli 2021.

Sisanya akan diambil dari sampel-sampel yang telah dikirim ke Litbangkes Papua yang memenuhi syarat hingga mencapai 48 sampel untuk proses ‘running’.

“Karena ‘catridge’ isi 48, kalau hanya dua sampel maka terbuang yang 46 reagen, padahal harganya mahal,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke dr. Nevil Mustika mengatakan ada 13 sampel terduga dari Merauke yang sedang diperiksa di pusat (Kemenkes RI). Ia menyebutkan bahwa sampel-sampel terduga tersebut masih dalam tahap analisis.

“Sampel yang dikirim ke pusat belum ada hasil, masih dianalisis, lama, mungkin dua bulan baru ada hasilnya karena untuk satu sampel butuh lima hari,” ujarnya.

Sementara dari Merauke, kata Mustika, sampel yang dikirim ke Litbangkes Papua untuk Pemantuan Mutu Eksternal (PME) atau uji konfirmasi terkait untuk mendapatkan rekomendasi Laboratorium PCR yang ada di RSUD Merauke.

“Sampel yang dikirim untuk PME (Pemantapan Mutu Eksternal) atau uji konfirmasi terkait untuk mendapatkan rekomendasi Laboratorium PCR yang ada di RSUD Merauke,” katanya.

Pasien di Merauke dirawat di tenda

Laporan Satgas Covid-19 Provinsi Papua per 12 Juli mencatat ada 27.679 orang positif Covid-19 di Provinsi Papua. Sedangkan di Kabupaten Marauke 1.659 kasus positif.

“Cakupan vaksinasi di Merauke masih sekitar 30 persen,” kata dr. Nevil Mustika.

Mustika mengatakan saat ini ada pasien yang sudah dirawat dalam tenda karena keterisian tempat tidur di RSUD Merauke telah mencapai 100 persen. Pihaknya sedang mengupayakan meminta bantuan kepada Kementerian Kesehatan untuk dukungan alat-alat di RSUD Merauke.

“Dukungan alat-alat di rumah sakit, seperti ventilator untuk kebutuhan regulator, alat pembantu napas. Stok oksigen juga tidak cukup, minta ‘backup’ dari luar,” katanya.

Kebutuhan oksigen, tambahnya, meningkat dengan adanya pasien Covid-19. Sedangkan kapasitas produksi di rumah sakit tidak cukup untuk melayani pasien yang ada di rumah sakit. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top