Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Wabah Covid-19 dalam perspektif manusia sebagai makhluk berpengharapan

Covid-19 di Papua
Ilustrasi, pandemi Covid-19 di Tanah Papua -Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM*

Pertanyaan manusia tentang dirinya sendiri akan selalu muncul dalam seluruh pergumulan hidup manusia itu sendiri. Pertanyaaan yang dimaksud adalah: Siapakah aku (manusia)? Dari mana aku berasal? Ke mana arah tujuan hidupku? Apa yang bisa aku lakukan di dunia ini? Dan lain-lain.

Tulisan ini berupaya menjawab pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Tentu, ulasan ini bukan satu-satunya jawaban, melainkan hanya salah satu alternatif.

Penulis mendasarkan ulasan sederhana ini pada refleksi teologis seorang teolog Kristen, Jurgen Moltmann, yang membahas khusus teologi pengharapan. Selain itu penulis juga melihat kaitan antara manusia sebagai makhluk yang berpengharapan di tengah wabah covid-19.

Teologi pengharapan Moltmann berbicara tentang Allah yang ada di depan kita dan yang akan menjadikan semuanya baru. Sekarang Dia dikenal dari janji-janji-Nya. Allah adalah Allah yang mempunyai masa yang akan datang sebagai sifat-Nya yang hakiki.

Teologi pengharapan Moltmann ingin memikirkan pengharapan bukan sebagai penghabisan seperti yang disebutkan di dalam dogmatika Kristen “eskatologi”, melainkan sebagai dasar dan sebagai pola pemikiran yang terus-menerus mempengaruhi dogmatika Kristen (bdk. Moltmann, 1965: 5).

Eskatologi menurut Moltmann adalah suatu keterbukaan kepada masa yang akan datang. Eskatologi diinterpretasikan kembali sebagai suatu yang sentral dari doktrin Kristen.

Loading...
;

Dalam arti inilah eskatologi dalam teologi pengharapan Moltmann berbeda dengan eskatologi tradisional sebelumnya. Moltmann menghadirkan eskatologi sebagai doktrin yang aktif dari pengharapan, supaya mampu menjadikan harapan sebagai alternatif masa depan.

Moltmann melihat Gereja sebagai jemaat pengharapan yang mengalami pengharapan di dalam Allah yang hadir di dalam janji-janji-Nya. Karena masih berada di dunia, maka Gereja dipanggil Allah, untuk pergi dan melayani sesama di dalam dunia, membangun dunia baru sambil menaruh harapan kepada Kristus.

Pengharapan akan apa yang dijanjikan Allah bagi masa depan

Moltmann hendak menegaskan bahwa  eskatologi adalah doktrin tentang harapan Kristiani. Harapan yang bersumber dari Allah itu akan memberikan semangat baru bagi pengikut Kristus untuk mengubah dunia saat ini ke arah yang lebih baik lagi.

Yang pasti adalah Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat yang menaruh harapan penuh kepada-Nya. Selain itu, menurut Moltmann, eskatologi Kristiani bukanlah logos Yunani, melainkan janji Allah kepada Israel.

Janji ini tidak dapat dibaca dari sejarah dunia dan keterarahannya, melainkan harus dimengerti dari sabda Allah yang datang ke dunia melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, tanpa mengenal Kristus dalam iman, pengharapan menjadi tidak bermakna. Dengan demikian, Yesus Kristus adalah jaminan pengharapan kristiani.

Berkaitan dengan hal ini, Moltmann memberikan kritikan terhadap orang kristiani zamannya, “orang Kristen, Gereja-Gereja dan kaum teolog telah percaya akan Allah tanpa masa depan; oleh karena itu, hasrat akan masa depan dunia telah bergabung dengan ateisme yang mencari masa depan tanpa Allah.”

Eskatologi memiliki sumber yang khas yakni karya keselamatan Allah. Dasar eskatologi adalah keyakinan iman bahwa karya Allah selalu mengandung kemungkinan baru.

Berpikir teologis dari segi pengharapan berarti melihat seluruh teologi dalam terang masa depan Allah. Inilah hal yang juga ditegaskan oleh Jurgen Moltmann.

Baca juga: Negara harus tegas dan adil memberantas rasisme

Ia meninggalkan cara menggambarkan Allah sebagai tokoh kekal, yang tanpa bergerak berada pada tempat yang tinggi atau berada di tempat yang terdalam dari manusia.

Mengapa demikian? Karena Allah bukan berada di tempat yang tinggi atau berada di tempat yang terdalam, tetapi Ia berjalan mendahului kita dan dari depan menarik kita menuju masa depan.

Dia adalah Allah masa depan, yang mengajar kita berharap. Oleh karena itu, Moltmann menandaskan bahwa gambaran Allah yang timbul dari pemikiran Yunani harus diganti dengan gambaran Allah yang timbul dari Perjanjian Lama, yakni Allah sejarah; Allah yang mencakup segala perkara duniawi, termasuk sosial-politik.

Perjalanan bangsa Israel menegaskan, bahwa Allah itu adalah Dia yang selalu berjanji membawa Israel menuju masa depan yang baru. Kesadaran akan Allah seperti inilah yang menyertai perjalanan bangsa Israel bahkan hingga saat ini.

Pemikiran ini juga hendaknya menjiwai perjalanan hidup orang-orang Kristen saat ini. Di tengah perjuangan hidup yang ditandai dengan pelbagai tantangan di dunia ini, hendaknya Allah selalu berada di depan, yang menarik mereka agar mengalami pembebasan bersama-Nya.

Pengharapan itu bersumber dari dinamika sejarah keselamatan. Dalam Perjanjian Lama, pelaksanaan janji-janji Allah menguatkan iman Israel terhadap kesetiaan Allah, sekaligus membuka harapan terhadap pelaksanaan janji-janji yang lebih sempurna.

Pelaksanaan sementara merupakan antisipasi eskatologis. Maksudnya adalah dalam pelaksanaan janji yang bersifat sementara itu kepenuhan pelaksanaan janji-janji diantisipasi. Dengan demikian, selalu ada pengharapan dalam diri orang-orang percaya.

Dalam Perjanjian Baru, antisipasi eskatologis itu lebih ditegaskan lagi. Kerajaan Allah sudah dekat, maka kita harus bertobat dan mengarahkan diri ke masa depan.

Peristiwa sangat penting yang menumbuhkan harapan baru bagi orang beriman adalah wafat dan kebangkitan Kristus. Melalui peristiwa penting ini, kebangkitan manusia diantisipasi dan dengan demikian menjadi jelas ke arah mana seluruh dunia berkembang.

Bahkan seluruh proses pembangunan dunia dan masyarakat, segala kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan memainkan peranan penting, karena setiap penyempurnaan dunia harus dilihat sebagai satu tahap dalam proses pelaksanaan wahyu Allah dan kerajaan-Nya.

Mengimani kebangkitan Kristus berarti bahwa orang kristiani sekarang sudah hidup dari masa depan yang telah diantisipasi dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Bagi Moltman, eskatologi itu berbicara tentang Kristus dan masa depan-Nya. Hal ini berkaitan dengan janji Yesus untuk menyelamatkan dunia. Yang perlu disadari adalah janji itu memiliki latar belakangnya dalam Perjanjian Lama.

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah selalu menjanjikan keselamatan bagi umat Israel. Berkat wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut, Kristus memberikan harapan baru bagi orang yang percaya; harapan akan keselamatan kekal sekaligus memanggil para pengikut-Nya untuk mewartakan keselamatan kepada segala bangsa.

Peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit merupakan pewahyuan yang menampilkan Kristus yang akan datang, dan karena itu dapat memberikan tugas perutusan kepada para rasul. Akan tetapi, perutusan ini hanya dapat dimengerti dalam terang janji-janji Perjanjian Lama tentang kedatangan Tuhan dan kebenaran-Nya.

Dengan demikian, sejarah keselamatan itu bukan hanya penting bagi para nabi, tetapi juga teologi yang dianggap oleh Moltman sebagai penglihatan historis-eskatologis yang diberikan Allah kepada kita dalam jangka waktu, antara peristiwa salib dan parusia Kristus.

Konsep ini memiliki konsekuensi lebih lanjut, yakni karena janji Allah hanya mempunyai arti kalau ada hubungan dengan manusia yang hidup di dunia, teologi yang berlandaskan Alkitab itu hendaknya selalu berdialog dengan dunia, termasuk ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial-politik.

Dengan demikian, iman berkembang menjadi harapan yang berjuang melawan apa yang negatif di dunia ini sambil menderita, tetapi tidak pernah putus asa sebab orang Kristen yang memiliki harapan menerima salib dalam kekuatan kebangkitan.

Salib dan kebangkitan Kristus adalah landasan pengharapan

Moltmann juga menguraikan bahwa harapan kristiani itu bersumber dari peristiwa kebangkitan dan penampakan Kristus. Tatkala kita mengakui kebangkitan Kristus, maka kita juga mengakui tindakan Allah di masa depan untuk mengubah dunia.

Dengan kata lain, salib dan kebangkitan Kristus adalah intisari iman kristiani dan ini mendasari pengharapan umat beriman. Iman kristiani hidup dari kebangkitan Kristus yang disalibkan, dan mendambakan masa depan Kristus yang akan terpenuhi dalam parusia.

Pada salib Kristus, kematian manusia mendapat arti bagi Allah. Manusia Yesus yang wafat pada kayu salib itu adalah Putra Allah, dan wafatnya Putra Allah itu dirasakan baik oleh Allah Putra maupun Allah Bapa (Bdk. Moltman, 1974: 190).

Baca juga: Kapan Pandemi Covid-19 berlalu dari Papua? Ini jawaban akademisi Uncen

Pembedaan antarpribadi dalam Allah Tritunggal itu mencakup juga kematian. Hal ini berlaku juga bagi keesaan dalam pembedaan itu, dan keesaan terletak dalam Roh Kudus: di dalam Roh Kudus terjadi penyerahan Putra ke dalam maut, dan karena Roh Kudus itu juga terlaksana kebangkitan Putra ke dalam kemuliaan.

Kebangkitan Kristus adalah awal kebangkitan orang-orang mati (bdk. Dister, 2004: 543). Menurut Moltmann, arti eskatologis wafat dan kebangkitan Kristus terletak pada salib. Salib dipandang sebagai antisipasi murka Allah atas segala makhluk. Kristus mewakili orang-orang berdosa dan fasik yang terpisah dari Allah.

Dengan demikian, salib Kristus merupakan peristiwa penghakiman eskatologis. Maksudnya, dalam salib itu pengadilan terakhir sudah terlaksana. Dalam salib anak-Nya, Allah Bapa menerima kematian supaya manusia dapat meninggal dalam damai karena mengetahui dengan pasti bahwa dalam kematian itu ia tidak terpisah dari Allah.

Melalui wafat Kristus, Allah sungguh-sungguh terlibat dalam sejarah manusia dan akan membawa sejarah itu kepada pemenuhannya, sebagaimana secara antisipasi sudah terlaksana dalam kebangkitan Kristus. Peristiwa salib dan kebangkitan Kristus merupakan landasan pengharapan bagi pengikut Kristus.

Maksudnya adalah dengan merenungkan, memahami dan mengimani misteri Kristus ini, orang-orang Kristen menaruh seluruh perjuangan hidupnya dengan aneka persoalannya ke dalam penyelenggaraan Kristus. Mereka yakin bahwa Kristus akan menjadi jaminan hidup. Penderitaan hidup di dunia akan berakhir dan yang nanti dialami adalah sukacita bersama Kristus yang bangkit.

Kebangkitan Yesus juga meyakinkan mereka bahwa peristiwa itu (kebangkitan Kristus) adalah antisipasi kebangkitan umat beriman. Dengan kata lain, peristiwa kebangkitan Kristus menjadi sumber kebangkitan hidup semua orang percaya dan sebagai sebuah konfirmasi janji yang akan dipenuhi dalam semuanya, sehingga masalah kematian pun tidak lagi menakutkan.

Melalui salib dan kebangkitan Yesus terdapat gambaran yang menarik tentang ‘persaingan’ antara kematian dan hidup, ketidakhadiran Allah dan kehadiran Allah. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus menuju hidup baru, Allah menciptakan kontinuitas di dalam diskontinuitas yang radikal ini.

Selanjutnya kontradiksi salib dan kebangkitan cocok kepada kontradiksi antara realitas masa kini dan apa yang Allah janjikan untuk diperbuat-Nya. Pada salib-Nya, Yesus memperkenalkan diri-Nya dengan realitas masa kini dengan segala persoalannya, yakni dosa, penderitaan dan kematian atau apa yang Moltmann katakan adalah keterkutukan dan ketidakkekalan.

Covid-19 dan pengharapan

Dalam situasi saat ini, di mana keganasan pandemi covid-19 yang semakin hari semakin menyerang secara membabi buta makhluk yang bernama manusia tanpa melihat apakah dia pejabat atau warga biasa, miskin atau kaya, pria atau perempuan, tenar atau low profile, pas-pasan atau tampan apakah kita masih berani untuk berharap?

Masih adakah sedikit ruang bagi kita untuk berharap? Kalau kita menjawab ya atas pertanyaan ini, lantas pertanyaannya kemudian adalah: Harapan seperti apa yang perlu kita hidupi? Tentu, harapan yang penulis maksudkan di sini bukan berarti pasif; tidak melakukan apa-apa; dan hanya menunggu saja kapan harapan itu terwujud.

Harapan tidak identik dengan pasrah; berharap bukan berarti lari dari dunia ini. Ketekunan dalam berharap justru harus ditunjukkan dengan menjalankan tanggung jawab dalam hidup. Untuk konteks kita saat ini, di mana pandemi covid-19 semakin meluas, harapan yang mesti kita bangun ialah, pertama, wabah ini pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Ini adalah harapan kita; kedua, “bahwasannya di mana bahaya itu ada, di situ tumbuh juga “kuasa” untuk menyelamatkan.

Akan tetapi, tanpa adanya harapan dan kepedulian dari pihak kita, kuasa itu mustahil tumbuh. Bahaya melatih kita untuk peduli, yaitu bertanggung jawab dengan tidak berkumpul, untuk berbela rasa tanpa menyentuh, untuk setia kawan tanpa merangkul (lih. F. Budi Hardiman, Kompas,  Jumat 27 Maret 2020);

Ketiga, harapan untuk konteks kita saat ini dapat juga berarti berdisiplin diri, taat terhadap arahan atau anjuran dari yang berwajib demi keselamatan semua orang, dan peduli dengan keadaan orang-orang di sekitar kita. Melalui harapan seperti ini, tragedi kemanusiaan ini segera akan berlalu dari hidup kita.

Teologi pengharapan Jurgen Moltmann menekankan hal penting dalam hidup umat beriman yakni pentingnya menaruh harapan kepada Kristus. Pengalaman penderitaan pribadi dan juga kehancuran bangsa Jerman, menyadarkan Moltmann akan pentingnya harapan terjadinya perubahan hidup ke arah yang lebih baik di masa depan.

Tentu di masa ini, manusia sedang dilanda wabah covid 19. Dari peristiwa ini tentu manusia mempunyai pengharapan yang besar untuk mampu keluar dari situasi tersebut.

Pengharapan ini bukan tanpa Allah, melainkan bersandar pada Allah, secara khusus salib dan kebangkitan Kristus. Inilah landasan pengharapan Kristiani.

Akan tetapi, iman akan Kristus ini harus diwujudkan dalam tingkah laku konkret, yakni mengubah dunia yang penuh penderitaan ini menjadi dunia yang lebih baik. ]Dengan demikian, pengharapan kristiani bukan hanya ucapan, tetapi dibuktikan melalui aksi yang nyata yang menghadirkan Kristus.

Inilah pengharapan yang realistis; pengharapan yang menyentuh persoalan konkret para pengikut Kristus. Gereja dipanggil untuk pergi dan melayani dunia, membangun dunia baru sambil menaruh harapan kepada Kristus.

Kehadiran orang Kristen diharapkan memberi harapan dan semangat baru bagi perjuangan mengatasi penderitaan, yang dialami masyarakat Indonesia saat ini (covid-19), sebab mereka selalu mengarahkan diri pada Kristus, sumber pengharapan sejati. (*)

*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi:

Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika II. Yogyakarta: Kanisius

Moltmann, Jurgen. 1965. Theology of Hope. Munich: SCM Press Ltd

-, 1974. The Crucified God. Munich: SCM Press Ltd

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top