Follow our news chanel

Previous
Next

Waket DPR Papua: Terlalu banyak darah OAP yang mengalir secara tak manusiawi

Jenazah Eden Armando Bebari (19) dan Ronny Wandik (21), dua korban penembakan di Mimika, pada Selasa (14/4/2020) berada di RSUD Timika. – IST
Waket DPR Papua: Terlalu banyak darah OAP yang mengalir secara tak manusiawi 1 i Papua
Jenazah Eden Armando Bebari (19) dan Ronny Wandik (21), dua korban penembakan di Mimika, pada Selasa (14/4/2020) berada di RSUD Timika. – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Wakil Ketua DPR Papua, Yunus Wonda mengatakan sudah terlalu banyak darah dan air mata orang asli Papua (OAP) yang mengalir di atas tanahnya sendiri secara tak manusiawi.

Pernyataan itu dikatakan Yunus Wonda menyusul penembakan yang dilakukan oknum TNI di Kabupaten Mimika yang menyebabkan Eden Armando Debari (20) dan Ronny Wandik (23) meninggal dunia, Senin (13/4/2020).

“Kejadian seperti ini tidak pernah berhenti. Terus terjadi di atas tanah ini. Air mata, tangisan, darah terus mengalir. Kenapa warga sipil yang terus ditembak. Masyarakat sipil mestinya dijaga, dilindungi,” kata Yunus Wonda melalui panggilan teleponnya, Kamis (16/4/2020).

Ia meminta aparat keamanan yang bertugas di Papua tidak menganggap semua orang asli Papua sebagai bagian dari anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Karena stigma itulah yang selalu menjadi alasan aparat menembak warga sipil yang tak bersalah.

“Sudah terlalu banyak orang Papua yang korban di tanah mereka sendiri. Para orang tua, kehilangan anaknya. Tembak orang Papua karena dibilang TPN/OPM. Kecuali baku tembak kemudian, dia [warga itu] ditembak, itu lain halnya,” ujarnya.

Wonda berharap, pihak TNI mengusut kasus dugaan salah tembak itu. Jika terbukti ada kelalaian, oknum  yang terlibat harus diproses sesuai aturan yang berlaku. Proses hukum mesti dilakukan terbuka, agar masyarakat percaya.

Loading...
;

Eden Armando Debari dan Ronny Wandik diduga merupakan korban salah tembak oleh aparat TNI Satgas YR 712 dan YR 900 yang melakukan operasi penindakan terhadap kelompok bersenjata di Mile 34, area PTFI, Timika pada Senin (13/4/2020) malam.

Saat peristiwa penembakan terjadi, kedua korban sedang mencari ikan dengan cara menyelam (dalam bahasa setempat disebut molo) di kali sekitaran Mile 34. Ketika itu korban membawa tombak atau panah untuk menangkap ikan.

Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab saat bertemu keluarga korban di RSUD Mimika pasca penembakan itu menyatakan segera menurunkan tim investigasi, terkait kasus itu.

“Nanti ada petugas yang ditunjuk untuk melaksanakan investigasi sehingga bisa mengetahui kejadian ini secara saksama dan tentu akan ada proses-proses hukum yang berjalan,” kata Mayjen Asaribab.

Menurut Pangdam, kehadirannya di Mimika ketika itu bersama para pihak terkait untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan terkait insiden penembakan yang menewaskan kedua pemuda tersebut, juga menemui keluarga korban.

“Saya bersama Kapolda dan jajaran hadir di sini untuk membantu masyarakat yang sedang berduka. Kami menyampaikan turut berduka cita atas kejadian ini,” kata Pangdam. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top