Walhi: Investasi sawit di Kabupaten Jayapura ancaman masyarakat Kapitiau

papua, pencemaran, limbah-sawit-walhi
Yunus Mattiseray dari WALHI Papua (tengah) dan Ondoafi Kampunf Kaptiau, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Aser Yambai (kanan) saat memberikan keterangan pers - Jubi/Arjuna

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, JubiWahana Lingkungan Hidup atau WALHI Papua menyatakan investasi perkebunan sawit milik PT RML di Kampung Boasum, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura mengancam keberlangsungan hidup warga Kampung Kaptiau, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Papua.

Yunus Mattiseray dari WALHI Papua mengatakan, berdasarkan riset lapangan pihaknya kurun Mei – Oktober 2019, diduga limbah sawit mencemari sungai Porowai dan Manguwaho di Kaptiau.

Padahal selama ini masyarakat setempat menggantungkan hidupnya di sungai itu. Mereka mencari ikan, kepiting dan kerang di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Kami bekerjasama dengan Laboratorium Kimia -Biologi MIPA Uncen Jayapura, menguji sampel air dua sungai di Kaptiau,” kata Yunus Mattiseray dalam keterangan pers di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (18/12/2020).

Menurutnya, hasil uji sampel menunjukkan nilai indeks pencemaran air di Sungai Maguwaho adalah 12,63 atau dikategorikan tercemar sedang skala tiga. Sedangkan air Sungai Porowai diperoleh nilai indeks pencemarannya dikategorikan cemar ringan skala empat.

“Pada 2019 silam terjadi kematian massal ikan, kerang, kepiting dan biota sungai lainnya di sana. Kondisi ini mesti segera dibenahi pemerintah dan pihak perusahaan. Jika tidak, dapat berpengaruh pada biota perairan,” ujarnya.
WALHI Papua mendesak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, memonitoring dan menguji sampel mutu baku kualitas air di kedua sungai di Kampung Kaptiau.

“Memang idealnya (perlu) ada perbandingan [hasil uji] sampel [dari WALHI Papua dan pemerintah],” ucapnya.
Sementara itu, ondoafi (kepala suku) Kampung Kaptiau, Aser Yambai mengatakan meski perusahaan sawit tersebut tidak beroperasi di wilayah hukum adatnya, namun warganya merasakan dampak dari limbah sawit.

Loading...
;

“Lokasi [operasi] perusahaan ada di Kabupaten Jayapura. Akan tetapi pembuangan akhir (limbah perusahaan) kami yang terima. Selama ini belum ada langkah dari pemerintah [mengatasi masalah ini],” kata Aser Yambai.

Ia mengakui sejak perkebunan sawit milik PT RML beroperasi pada 2009 silam, warga Kaptiau tidak menyadari dampak yang ditimbulkan limbah perusahaan. “Kami baru menyadari dampak yang ditimbulkan setelah adanya advokasi dari WALHI Papua,” ucapnya.

Katanya, limbah sawit kini mengancam keberlangsungan mata pencaharian warga Kaptiau. Selama ini mereka mencari berbagai biota sungai untuk dikonsumsi dan dijual memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga, sekolah anak.

“Kini sudah banyak biota sungai mati. Selain itu, pembukaan lahan oleh perusahaan menyebabkan hewan liar seperti buaya kembali sungai dan mengancam masyarakat,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top