Follow our news chanel

Previous
Next

Wamena yang dulu sudah hilang

Warga yang mengungsi dari Wamena ke Jayapura - Jubi/Engel Wally
Wamena yang dulu sudah hilang 1 i Papua
Warga yang mengungsi dari Wamena ke Jayapura – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Dampak kerusuhan Wamena pada Senin (22/9/2019) lalu, membawa banyak ceritera dan pengalaman bagi sebagian warga perantau yang saat ini mengungsi ke Kabupaten Jayapura.

Bagi mereka, Wamena yang dulu pertama kali mereka datang sudah berubah dan hilang. Keramahan, kekeluargaan, bahkan sikap saling mengasihi satu dengan lain semakin hari tidak begitu nampak.

“Banyak orang yang salah menilai tentang kehidupan saudara-saudara saya di Wamena. Saya sebut saudara karena memang kita bersaudara di wilayah ini. Saya sudah 16 tahun tinggal di Wamena,” ujar Krisanthus Letsoin, salah satu warga masyarakat Kei Maluku Utara yang sudah ada di Sentani pasca kerusuhan di Wamena, Selasa (1/10/2019).

Menurut Krisanthus Letsoin, tenaga guru honorer di Kabupaten Yahukimo, penyakit sosial masyarakat di Wamena Kota sangatlah menonjol. Mulai dari mabuk, palang, pencurian, tindakan kekerasan secara individu kerap kali terjadi. Tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga warga pendatang.

“Sebenarnya kita juga merindukan situasi yang aman, damai, dan nyaman seperti waktu-waktu yang lalu. Tidak ada pembatasan bagi sesama warga Papua dari daerah lain yang masuk ke Wamena. Masyarakat Wamena sendiri yang mendiami Lembah Baliem sangat ramah dan baik kepada kita yang pendatang,” ungkapnya.

Kata Letsoin, setelah belasan tahun hidup di Wamena, kerusuhan yang terjadi kemarin adalah pertama dalam hidupnya.

Loading...
;

“Sebelum Wamena rusuh, saya ada turun dari Yahukimo ke Wamena untuk pencairan dana BOS. Setelah di Yahukimo baru saya dengar Wamena rusuh. Terpaksa saya langsung ke Jayapura karena tidak ada akses untuk ke Wamena baik darat maupun udara,” tuturnya.

“Sesungguhnya hubungan kami sangat baik dengan masyarakat lokal, apalagi kami sebagai guru. Papua ini sejak zaman Belanda sudah ada guru-guru pendidikan, pendeta, guru jemaat asal Maluku Tenggara yang datang ke sini. Oleh sebab itu hubungan kami selama ini sangat baik dan dekat sekali,” imbuhnya.

“Harta benda, rumah, dan segala isinya sudah hangus dan rata dengan tanah. Saya bersyukur karena kami sekeluarga masih selamat. Untuk sementara kami tinggal di Sentani sampai kondisi aman dulu baru kembali lagi ke Wamena. Karena kondisi Wamena yang belum begitu kondusif, siapa yang akan bertanggung jawab atas kesalamatan kami,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Romel Soreli, warga pengungsi asal Kei. Selama dirinya bersama keluarga di Wamena, kehidupan mereka sangat dekat dan akrab dengan masyarakat lokal.

Dirinya meyakini kerusahan yang terjadi di Wamena ditunggangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kerusuhan terjadi pagi hari dan mulai memasuki tempat-tempat pendidikan, termasuk di sekolah anak saya. Jadi pagi itu, langsung saya menuju ke sekolah di mana anak saya belajar, dan membawanya pulang dengan melewati ratusan anak-anak pelajar yang sedang berlari dalam aksi demo pagi itu,” ungkapnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top