Follow our news chanel

Warga bantah korban meninggal dalam bentrokan 6 Juni karena panah dan batu

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Wamena, Jubi – Warga masyarakat yang berada di lokasi bentrokan antara warga distrik Wouma dan Welesi pada Rabu, 6 Juni 2018 lalu membantah pernyataan Kapolres Jayawijaya yang menyebutkan korban jiwa dari salah satu kelompok dalam bentrokan tersebut diakibatkan oleh panah dan lemparan batu yang dilakukan warga yang bentrok.

“Korban meninggal ditempat karena tembakan aparat keamanan,” ujar seorang warga Wamena berinisial AL, Sabtu (9/6/2018)

AL yang tak ingin disebutkan namanya ini mengaku terlibat dalam bentrokan tersebut. Ia bersama korban meninggal yang bernama Titiget Murib itu sama-sama berada di barisan depan salah satu kelompok yang bertikai. Ia mengatakan melihat kawannya itu jatuh setelah tertembak.

“Ini terjadi didepan banyak orang,“ lanjut AL dengan yakin.

Menurutnya, informasi bahwa polisi mengeluarkan tembakan karena ada serangan dari masyarakat itu perlu dipertanyakan. Sebab yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat serang polisi setelah satu rekannya tertembak dan meninggal.

AL menjelaskan awalnya bentrokan terjadi pada pagi hari setelah malam sebelumnya seorang warga dari Walesi yang mengendarai sepeda motor dihadang dan dipukuli oleh sekelompok pemuda yang sedang dalam pengaruh alkohol yang diduga berasal dari Wouma. Lalu polisi datang mengamankan sehingga pihaknya memberikan kesempatan kepada polisi untuk menangkap pelaku pemukulan dan penghadangan motor sebelum jam 15.00 WIT. Namun hingga waktu yang ditentukan itu, pelaku pemukulan tersebut tak bisa ditangkap sehingga mengakibatkan pihak keluarga yang dihadang marah. Lalu terjadilan bentrokan antara pihak Walesi dan Wouma.

Loading...
;

Baca Forkopimda Jayawijaya turun mediasi, keluarga korban tuntut Rp3 Miliar

Dominikus Surabut, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) secara terpisah mengatakan kesaksian masyarakat di lapangan membenarkan korban meninggal dalam bentrokan tersebut karena tembakan peluru polisi, bukan kena panah saat bentrokan. Ia juga mengaku tahu hal itu karenabentrokan itu terjadi di depan honai adat suku Lanitapo yang juga ikut dibakar massa

“Bentrokan terjadi pas di depan kantor Dewan Adat Lanitapo, Anggota kami tahu bahwa korban Murib itu meninggal bukan karena panah atau lemparan masyarakat melainkan tembakan aparat polisi,” ungkap Surabut.

Selain itu, kata Dominikus Surabut, masyarakat juga melaporkan bahwa, polisi buang gas air mata hingga dalam gereja tempat masyarakat berlindung.

“Kami punya saksi yang laporkan itu,” ujar Surabut.

Sehari setelah bentrokan, Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba mengakui jika bentrokan yang terjadi Rabu pekan lalu itu menyebabkan satu korban meninggal dunia, yakni warga yang tak tahu apa-apa tentang kejadian itu.

“Korban jiwa dari salah satu kelompok yang merupakan warga dari kabupaten pemekaran. Dari hasil visum bagian luar yang dilakukan, korban meninggal dikarenakan kena panah dan lemparan batu bukan terkena amunisi atau tembakan yang aparat TNI-Polri pada saat warga melakukan perlawanan kepada aparat,” kata Kapolres Jayawijaya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top