Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

jayapura papua
Aktivitas di Pasar Ikan Youtefa, Jayapura, Papua. –Jubi/ Theo Kelen.

Warga Kota Jayapura ragu ikut vaksinasi Covid-19

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sejumlah warga Kota Jayapura, Papua yang ditanyai Jubi mengaku ragu untuk mengikuti vaksinasi Covid-19.

Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Katrin mengatakan ragu mengikuti vaksinisasi Covid-19 dengan alasan vaksin akan mempengaruhi kekebalan tubuh penerima.

Menurutnya vaksin akan diterima dengan berbeda oleh penerima, tergantung antibodi masing-masing. Bagi penerima yang antibodinya kuat vaksin yang masuk akan aman.

“Kita tidak tahu vaksin itu kan ada zat-zat tertentu juga, misalnya masuk pada tubuh saya, terus terjadi sesuatu atau tubuh saya tidak cocok, tetap kena juga, lebih baik saya begini saja,” ujar mahasiswa Jurusan Farmasi tersebut, Selasa (12/01/2021).

Kata Katrin, meski vaksin Covid-19 berguna untuk menekan laju penularan Covid-19, namun sebaiknya diberikan kepada yang mau menerima. Artinya, vaksin tidak boleh dipaksa diberikan untuk semua masyarakat.

“Bagusnya pemerintah melaksanakan vaksin untuk beberapa orang yang rela divaksin saja, secara pribadi saya sebagai mahasiswa okelah bagi yang mau divaksin, tapi yang tidak mau tidak usah dipaksakan, mungkin ada alasan tertentu yang membuat mereka tidak mau suntik vaksin itu,” katanya.

Loading...
;

Katrin yakin protokol kesehatan lebih aman ketimbang vaksin, sehingga dalam keseharian ia memilih menerapkan protokol kesehatan.

“Saya akan terapkan prokes seperti biasa, karena saya juga tinggal di asrama, biasa pulang dari kampus langsung cuci tangan, mandi, terus tidak terima tamu, apalagi sekarang kan libur, jadi kami tinggal masing-masing dan beberapa minggu belakangan kami tidak doa bersama dulu,” ujarnya.

Menurut Katrin pemerintah terlebih dahulu harus melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sebelum menyuntikan vaksin Covid-19, sehingga tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.

“Masyarakat ini kan banyak dengar-dengar berita di luar soal vaksin, kalau bisa pemerintah buat semacam sosialisasi dulu, jangan sampai ada yang ikut-ikut saja tapi tidak tahu, apalagi orang tua yang tidak sekolah begitu, turun sosialisasi begitu pasti mereka akan paham,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan pedagang Ikan di Pasar Youtefa, Jayapura, Fadan. Ia juga ragu menerima vaksin Covid-19 karena takut hanya dijadikan percobaan.

Fardan tahu BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin tersebut aman.

“Tapi banyak berita yang simpang siur, ini kan kita pakai beberapa vaksin, misalnya Sinovac, mereka bilang bagus, seharusnya Sinovac saja, kenapa pakai lebih dari dua macam, berarti kalau satu kurang manjur kita pakai yang satu lagi, ini kan yang kita takutkan jangan sampai kita dijadikan kelinci percobaan saja,” ujarnya.

Menurut Fadan, karena ini tahap pertama, pemerintah harus bisa membangun kepercayaan masyarakat akan vaksin Covid-19 dengan memberikan contoh sebagai penerima terlebih dahulu.

“Bagusnya biarkan berjalan dulu, divaksin dulu kalangan pemerintahan, ASN dan tenaga kesehatan dulu, ini membangun kepercayaan masyarakat terhadap vaksin, kalau langsung ke masyarakat saya yakin banyak yang tolak,” katanya.

Karena ragu menerima vaksin, Fadan tetap mengutamakan menjaga protok Kesehatan dalam beraktivitas.

“Bukan kita tra percaya barang ini, kita tetap antisipasi juga, kalau pulang kita tetap ikut prokes, pulang langsung ganti baju, cuci tangan, bila perlu langsung mandi sebelum ketemu orang rumah,” ujarnya.

Sopir taksi trayek Pasar Youtefa-Koya, Jayapura, Papua Riben Kouwe juga ragu mengikuti vaksinasi Covid-19. Alasannya karena ia baru pertama kali mendengar tentang vaksin Covid-19.

“Belum tahu juga vaksin itu seperti apa? Reaksinya seperti apa? Apakah dengan vaksin itu kita sudah tidak bisa kena korona, jangan-jangan kita vaksin tapi kita masih kena korona, kita hanya dengar dari pemerintah bilang vaksin… vaksin….” katanya.

Jika memang divaksin, kata Riben, para penerima harus mengikuti pemeriksaan kesehatan secara lengkap dan bukan sekedar mengisi formulir data diri.

“Harus periksa darah lengkap, biar kita tahu penyakit kita dulu, jangan sampai kita dibilang sehat dari lihat kertas, kita tidak tahu penyakit kita, setelah divaksin kita badan panas dingin lagi, lalu kita mati, ya vaksin itu tidak berguna dong,” ujarnya.

Walaupun ragu mengkuti vaksin, ia tetap mempercayai adanya virus Covid-19. Karena itu Riben dalam menarik taksi selalu mengimbau penumpang untuk mematuhi protokol kesehatan.

“Kita juga tahu penyakit ini memang berbahaya, karena korona itu menyebar lewat segala hal, lewat hidung, dan mulut, karena itu kita imbau penumpang memakai hand santizer dan memakai masker,” katanya.

Ruben belum bisa mengurangi muatan penumpang untuk jaga jarak. Alasannya karena harus membayar setoran, beli BBM, dan memenuhi kebutuhan lainnya.

Bagi Ruben kesehatan kembali kepada pribadi untuk merawat diri secara baik, jika tak terawat tetap akan terkena virus Covid-19.

“Penyakit itu ada, cuma bagaimana dari kita saja pintar-pintar rawat kita punya diri, kita pasti jauh dari korona, tapi kalau kita tidak serius menganggap suatu penyakit itu, kita juga akan kena,” ujarnya. (Theo Kelen)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top