Follow our news chanel

Warga Myanmar makan tikus untuk bertahan hidup selama lockdown

Ilustrasi kemiskinan, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Warga di permukiman kumuh Myanmar memakan reptil dan tikus agar bertahan hidup selama lockdown di daerah setempat.  Tercatat gelombang pertama virus Covid-19 melanda Myanmar pada Maret, membuat masyarakat setempat tak  mampu menjalankan aktivitas pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hal itu diarasakan seorang  warga Ma Suu yang berusia 36 tahun yang menutup kios saladnya dan menggadaikan perhiasan dan emasnya untuk membeli makanan.

Selama gelombang kedua Covid-19, ketika pemerintah mengeluarkan perintah tinggal di rumah pada September untuk Yangon, Ma Suu menutup kiosnya lagi dan menjual pakaian, piring, dan pancinya.

Baca juga : Laporan ILO ada 115.000 pekerja Fiji terdampak ekonomi karena Covid-19 

Pria di Korsel ini nekat mencuri telur saat pandemi Covid-19 

Ditimpa pandemi dan bencana, Kim Jong-un perintahkan pemulihan ekonomi

Karena tidak ada yang tersisa untuk dijual, suaminya, seorang pekerja konstruksi yang kini menganggur, terpaksa berburu makanan di saluran pembuangan air di daerah kumuh tempat mereka tinggal di pinggiran kota terbesar di Myanmar.

Loading...
;

“Orang-orang memakan tikus dan ular. Tanpa penghasilan, mereka perlu makan seperti itu untuk memberi makan anak-anak mereka,” kata Ma Suu sambil menangis, Jum’at (23/10/2020).

Mereka tinggal di Hlaing Thar Yar, salah satu lingkungan termiskin Yangon, tempat penduduknya membawa senter di semak-semak tepi kali belakang rumah mereka untuk mencari makhluk nokturnal demi menghilangkan rasa lapar.

Myanmar mencatat 40 ribu lebih kasus dan 1.000 kematian, negara itu salah satu kasus Covid-19 terburuk di Asia Tenggara. Lockdown di Yangon telah menyebabkan ratusan ribu orang, seperti Ma Suu, tanpa pekerjaan dan tidak menerima penghasilan sepeser pun.

Pejabat lokal Nay Min Tun mengatakan 40 persen rumah tangga di wilayahnya, di Hlaing Thar Yar, telah menerima bantuan tetapi banyak tempat kerja ditutup dan orang-orang semakin putus asa.

Myat Min Thu, anggota parlemen partai yang berkuasa untuk daerah tersebut, mengatakan bantuan pemerintah dan sumbangan pribadi sedang didistribusikan tetapi mengakui tidak semua orang tercakup bantuan.

Krisis telah membayangi pemilihan umum yang direncanakan pada 8 November, meskipun peraih Nobel Aung San Suu Kyi diperkirakan masih akan menang dengan selisih yang cukup.

Tercatat sebelum pandemi sepertiga dari 53 juta orang Myanmar dianggap sangat rentan untuk jatuh ke dalam kemiskinan, meskipun ada kemajuan baru-baru ini setelah negara itu bangkit dari isolasi yang menghancurkan selama beberapa dekade di bawah junta militer.

Tekanan finansial sekarang mengancam untuk menjerumuskan banyak orang kembali ke dalam kemiskinan atau menekan peluang mereka untuk keluar dari angka kemiskinan.

Kemiskinan di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang akan meningkat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun karena Covid-19, kata Bank Dunia pada September, dengan sekitar 38 juta diperkirakan akan tetap berada atau dipaksa kembali ke dalam kemiskinan. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top