Warga Solok Selatan ini tertimbun tambang emas era kolonial

Ilustrasi longsor. - Tempo.co
Warga Solok Selatan ini tertimbun tambang emas era kolonial 1 i Papua
Ilustrasi longsor. – Tempo.co

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Padang Aro, Jubi– Sembilan warga Nagari Ranah Pantai Cermin, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tertimbun galian pada Sabtu petang (18/4/2020). Lokasi kejadian merupakan penambangan emas peninggalan zaman penjajahan Belanda.

“Informasi yang kami peroleh itu bekas tambang peninggalan di zaman Belanda. Jadi mereka mencari emas dengan mendulang atau tradisional di lokasi tersebut,” kata Kepala Kepolisian Resor Solok Selatan, AKB Imam Yulisdianto, Minggu, (19/4/2020).

Baca juga : TNI dan Polri diminta menindak penambangan emas illegal Manokwari

Penambangan emas ilegal menimbulkan korban, ini kata Polres Lebong

Penambang emas ilegal asal Kalbar ditangkap di Aceh

Kejadian tertimbun 12 orang itu terjadi saat mereka mendulang emas. Tiga orang mendulang di bagian luar, sementara sembilan orang yang menjadi korban mendulang di bagian dalam lubang. “Tiga orang yang selamat tersebut yang memberikan informasi dan melakukan evakuasi awal,” ujar Imam menambahkan.

Loading...
;

Menurut Imam, aparat polisi mengolah tempat kejadian peristiwa yang berjarak sekitar empat sampai lima kilometer jalan utama dengan kondisi jalan perbukitan.

Pelaksana Tugas Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, menyebutkan di Nagari Ranah Pantai Cermin itu banyak lokasi penambangan emas peninggalan zaman Belanda. Menurut Rahman, pandemi Covid-19 ini saat mempengaruhi ekonomi masyarakat sehingga mereka menambang emas di lokasi tersebut.

“Masyarakat Sangir Batanghari sebagai besar petani komoditas ekspor seperti sawit, pinang, karet yang harganya saat ini anjlok. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka menambang secara tradisional di Jorong Talakiak yang terdapat banyak bekas tambang emas Belanda,” kata Rahman.

Ia memastikan penambangan yang dilakukan para korban yang tertimbun itu memakai cara tradisional, karena dari sembilan korban tersebut satu di antaranya perempuan yang ikut mendulang.

“Kalau memang menggunakan alat berat gak mungkin ada perempuan di dalam (lubang tambang),” kata Rahman menjelaskan. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top