HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Warisan terpenting “pelobi” ulung OPM, Andy Ayamiseba

Andy Ayamiseba, pendiri Band Black Brothers - Jubi/IST
Andy Ayamiseba, pendiri Band Black Brothers – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Thomas Ch. Syufi

Dua pekan lalu kita dikejutkan oleh sebuah berita duka atas berpulangnya seorang tokoh legendaris bangsa Papua, Andy Ayamiseba, pendiri Grup Band Black Brothers 1976, diplomat sekaligus tokoh senior Organisasi Papua Merdeka (OPM). Andy meninggal di Canberra, Australia pukul 16.00 waktu Australia, Jumat, 21 Februari 2020, karena menderita kanker yang menyerangnya sejak 31 Oktober 2019.

Kepergian putra sulung dari Dirk Ayamiseba (mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) Irian Barat itu mengundang ribuan dukacita yang mendalam bagi rakyat Papua maupun masyarakat Pasifik, yang diekspresikan melalui berbagai media sosial, media massa, dan cerita-cerita di rumah, warung kopi, hingga diskusi ilmiah di perguruan tinggi.

Kepergiaan Andy Ayamiseba menyisakan kesedihan dan duka yang mendalam bagi kita semua. Memang kepergian seorang seniman selalu dirindukan, kepergiaan seorang politisi banyak yang menggantikan.

Tentu, Andy Ayamiseba adalah sosok yang berada di dua sisi itu. Ia memiliki bakat sebagai seorang seniman hingga mendirikan band Papua Black Brothers (1976). Di sisi lain, ia juga seorang politisi dan diplomat ulung dan “berbahaya” dalam kacamata Indonesia. Karena selain sebagai seorang seniman, politisi (diplomat), Andy juga seorang pengusaha yang sukses di Pasifik.

Bisnis yang ia lakukan demi mendukung proses perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Ia tidak mencari kekayaan atau kebahagiaan personal di pengasingan, tapi demi kepentingan komunal rakyat Papua.

Loading...
;

Ia juga disebut sebagai salah satu bapak pendiri (founding fathers) negara Vanuatu. Ia membawa Black Brothers mendukung gerakan pembebasan rakyat Vanuatu dari penjajahan Perancis, melalui alunan musik yang dilantunkan ke berbagai negara di Pasifik dan dunia dengan spirit brotherhood (persaudaraan serumpun) dan semangat kemanusiaan sejati.

Gerakan itu membuahkan kenyataan; Vanuatu berhasil bebas dari belenggu penjajahan Perancis pada 1980. Atas kecintaannya yang begitu besar kepada rakyat Vanuatu seperti masyarakat Pasifik yang lain–pada tahun 1983–Andy yang pernah mendekam (merasakan) dinginnya sel penjara, bersama Dr. Thomas Wanggai (Proklamator Republik Melanesia Barat) di Kloofkamp, Jayapura tahun 1971 itu, diundang oleh Black Brothers membantu berkampanye dan menggalang dana mendukung pemilihan umum (pemilu) pertama negara Vanuatu.

Dalam momentum itu dibuat perjanjian resiprositas bahwa jika Partai Vanuatu menang pemilu, maka imbalannya adalah Vanuatu mendukung perjuangan Papua merdeka. Harapan itu menjadi nyata, Partai Vanuatu menang pemilu sekaligus menjadi partai penguasa di pemerintahan. Maka, Andy dan Black Brothers menetap di Vanuatu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Papua.

Namun selang beberapa waktu setelah pemilu, Vanuatu diterjang krisis politik yang ikut memporak-porandakan daratan kekuasaan yang baru dibangun dengan bersusah payah melalui pemilu demokratis. Kemulut ini akibat dari mosi tidak percaya rakyat Vanuatu terhadap para  pemimpinnya, yakni Walter Lini sebagai Presiden dan Barak Sope sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Instabilitas politik itu berujung pada lengsernya Walter Lini dan Barak Sope dari jabatan masing-masing.

Andy Ayamiseba pun harus minum pil kepahitan dan menanggung kerugiaan atas krisis tersebut. Putra sulung Dirk Ayamiseba dan Adolfina Tan Ayomi (almh) itu pun dideportasi dari Vanuatu oleh penguasa baru. Ibarat “jatuh tertimpa tangga” atau sudah panas lalu mengenakan jaket. Itulah nasib seorang “excile”, yang dikejar dari negerinya dan lari menyelamatkan diri di pengasingan, namun di sana juga mengalami hal yang sama: diasingkan, dikucilkan, dan dideportasi.

Baca juga  Pengrajin sambut rencana tempat khusus di PON

Itulah jalan terjal perjuangan Andy Ayamiseba untuk sebuah kebebasan bagi negerinya, Papua Barat. Andy Ayamiseba dideportasi karena dianggap menyokong (atau tim sukses) Walter Lini dan Barak Sope saat kampanye pemilu Vanuatu tahun 1983.

Maka, Andy Ayamiseba dan Black Brothers menetap di Vanuatu untuk melakukan aktivitas maupun kampanye politik Papua merdeka. Kira- kira seperti itulah realitas politik yang dikonstruksi oleh Andy Ayamiseba.

Ia sangat paham bahwa dalam dunia politik  “…tak ada makan siang yang gratis (there is not free lunch)”.

Rasa-rasa Vanuatu menjadi bukti sejarah yang paling kuat bagi para aktivis Papua mendengungkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan Papua di kawasan negara-negara Oseania maupun ke penjuru dunia.

Kini negara-negara Pasifik menyatakan sikap untuk terus berjalan bersama bangsa Papua dalam situasi apapun adalah buah diplomasi musik” ala Andy Ayamiseba.

Vanuatu menjadi satu-satunya negara nomor satu di Pasifik dan dunia yang secara total mendukung gerakan hak penentuan nasib sendiri dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua. Berdiri tanpa beban, Vanuatu berlayar di atas semua kepentingan menjadi tiang “api moral” yang terus meneriakkan martabat dan kemanusiaan orang Papua di berbagai forum, baik di Pasifik, Afrika, Karibia, maupun forum dunia.

Konsisten

Andy Ayamiseba memang tidak mewariskan sesuatu yang lebih agung dan luhur bagi keluarga  maupun masyarakat Papua. Namun, ia bisa mempunyai ‘legacy’ penting yang tak bisa dibandingkan atau dibayar dengan apapun, termasuk harta emas dan perak adalah konsistensi.

Selain memiliki idealisme, sikap nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, Andy Ayamiseba memiliki integritas yang sangat luar biasa. Ia setia dan teguh dalam pendiriannya untuk memperjuangkan sebuah ideologi yang berbasis pada kebenaran sejarah. Ingin sejarah Papua harus diluruskan melalui jalan damai.

Hal itu membuat Andy Ayamiseba sekali dalam mengambil pilihan dan keputusan, ia tetap setia dengan keputusan itu hingga akhir hayat. Ia bersama Black Brothers melarikan dari (minta suaka politik) ke pengasingan sekitar tahun 1980, karena represi rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Andy Ayamiseba dan anggota Black Brothers diteror dan diancam akan dibunuh karena pemerintah Orde Baru yang merasa tersinggung dengan lagu-lagu Black Brothers yang dinilai bernuansa politis, antara lain, “Bintang Jatuh di Hari Kiamat, Lonceng Kematian, dan Derita Tiada Akhir”.

Andy Ayamiseba dan rekan seperjuangan, sekaligus bersama mendirikan West Papua National Coalition for Liberation (Persatuan Nasional Papua Barat untuk Pembebasan/ WPNCL) Dr. John Otto Ondawame pernah diminta pulang oleh pemerintah Indonesia melalui teman sekolah Andy Ayamiseba di SMA Gabungan Jayapura, Nick Messet dan Frans Albert Yoku (alm).

Baca juga  Oktober, aplikasi dan portal SIM PON rampung

Pemerintah Indonesia beralasan telah memberikan kebijakan otonomi khusus bagi masyarakat Papua, sebagai jalan terbaik untuk menjawab keadilan dan kesejahteraan orang Papua. Dengan demikian, para pemimpin Papua di pengasingan, termasuk Andy Ayamiseba dan John Otto Ondawame di Vanuatu harus pulang untuk membangun negeri West Papua.

Namun ajakan itu ditolak oleh Andy Ayamiseba dan John Otto Ondawame. Andy yang merupakan pebisnis dan pelobi andalan OPM untuk wilayah Pasifik itu menyatakan, “Hanya bisa pulang ketika West Papua telah memperoleh kemerdekaannya dan Indonesia telah pergi.” Pria yang lahir di kota Biak, 21 April 1947 itu tetap konsisten mengikuti hati nurani, karena hati nurani adalah suatu badan keadilan yang keputusannya tidak dapat dibanding.

Bagi Andy Ayamiseba, hidup hanya sekali: lahir, berarti, lalu mati. Maka, dalam politik pun jangan abu-abu. Harus jelas sekali dalam mengambil keputusan: hitam atau putih. Karena di situlah terpancar integritas dan kemanusiaan kita sesungguhnya. Siapa kita pada ratusan dan ribuan tahun akan datang, ditentukan oleh siapa (atau keputusan/perbuatan) kita hari ini.

Andy Ayamiseba sangat skeptis dan pesimistis terhadap kebijakan politik parsial Jakarta berupa paket otsus. Ia yakin bahwa untuk menjawab tuntutan rakyat Papua bukan diberikan tawaran sepihak, tapi kebijakan itu berdasar pada konsensus politik bersama yang dilahirkan melalui jalan perundingan atau pelurusan sejarah Papua.

Andy Ayamiseba pun menolak pendekatan security approach (pendekatan keamanan) yang terus dilakukan Jakarta dalam menyelesaikan konflik Papua. Ia memandang penyelesaian masalah Papua dengan pendekatan kekerasan hanya akan menggerus dan mengancam kekayaan terluhur orang Papua, yakni kehidupan. Jalan dialog dan perundingan menjadi (jalan mencari) solusi terbaik untuk mengangkat martabat kemanusiaan orang Papua sesuai visi-misi band besutannya, Black Brothers.

Tentu bagi Andy Ayamiseba, lebih baik berjuang mati di pengasingan daripada menyerah pada kemunafikan dan ketidakadilan penjajah di negeri sendiri. Atau meminjam pameo Latin, “Dulce et decorum est pro patria mori” (hal yang manis dan mulia apabila seseorang gugur demi tanah air atau negerinya).

Itulah sebuah konsistensi dan pertanggungjawaban Andy Ayamiseba sebagai seorang anak manusia sekaligus pejuang sejati bagi kaum dan negerinya, Papua Barat. Ia telah memberanikan diri menjadi lilin yang habis dibakar. Bagi Andy Ayamiseba, tidak ada kata berlutut atau kata menyerah, tapi yang ada hanyalah berdiri berjuang atau mati. “Patria o muorte, Tanah Air atau Mati“.

Selamat jalan tokoh pejuang Bangsa Papua Barat, Andy Ayamiseba dalam kedamaian abadi bersama para kudus.

“We shall overcome someday, suatu ketika kita akan menang”, Martin Luther King Jr. (1929-1968), aktivis kemanusiaan Amerika mengutip Robert Nesta ” Bob” Marley (1945-1968), musisi kondang Jamaika. (*)

Penulis adalah Koordinator Papuan Observatory for Human Rights (POHR)

Editor: Timo Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa