HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

West Papua mekar di persimpangan “Jalan Melanesia”

Ilustrasi kawasan Pasifik Selatan - Jubi/google map
West Papua mekar di persimpangan “Jalan Melanesia” 1 i Papua
Ilustrasi kawasan Pasifik Selatan – Jubi/google map

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hengky Yeimo

Handphone saya berdering keras saat sedang menulis rangkaian peristiwa protes ujaran rasisme di Surabaya 16 Agustus 2019 oleh rakyat Papua. Saya angkat telepon, rupanya yang menelepon adalah orang-orang tua dari beberapa kampung di Papua.

West Papua mekar di persimpangan “Jalan Melanesia” 2 i Papua

Mereka menanyakan progres sidang umum PBB. Apakah ada negara yang mendukung Papua ka? Berapa negara yang mendukung? Bagaimana informasi demonstrasi?

Saya hanya bisa menjawab seadanya. Saya jawab pertanyaan mereka dengan sangat hati-hati terkait progres sidang umum, dan kondisi demonstrasi di Jayapura, agar mereka mendapat informasi yang jelas dan tidak menerima hoaks.

Mereka bertanya kepada saya saat itu karena internet dibatasi oleh Kominfo RI dengan dalih agar tidak menyebarkan hoaks atau fake news.

Di tengah polemik bangsa Papua, jutaan rakyat West Papua–ras Melanesia–menaruh harapan penuh pada negara-negara Melanesia untuk menyuarakan nasib Papua di sidang ke-74 PBB.

Loading...
;

Bukti komitmen solidaritas itu dinyatakan dan disuarakan oleh Vanuatu, Solomon Island, Tuvalu, New Zealand, dan Australia di PBB.

Antusiasme rakyat West Papua merespons dukungan itu juga ditunjukkan dengan doa bersama dan barapen, serta berbagai gerakan di dalam dan luar negeri.

Solidaritas kemelenesiaan itu telah diwujudnyatakan melalui dukungan di sidang umum PBB oleh negara-negara Melanesia seperti Vanuatu, Solomon Island, Tuvalu. Walau tidak semua pemimpin negara di Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia berbicara mengenai isu West Papua, solidaritas itu merupakan bukti dukungan negara-negara Melanesia untuk mencapai misi dari jalan terjal Melanesia itu sendiri.

Sebelum berbicara jauh mengenai Melanesia, kita simak dulu apakah Melanesia itu, istilah itu muncul dari mana dan dimana saja cakupan wilayahnya? Apa itu “Jalan Melanesia” berdasarkan pemetaan filsuf Melanesia dan mengapa gerakan solidaritas kemelanesiaan semakin menguat?

Istilah Melanesia muncul abad ke-19 tepatnya 1832. Melanesia diperkenalkan oleh penjelajah berkebangsaan Perancis, Jules Dumont D’urville. Menurutnya Melanesia berasal dari kata bahasa Yunani “melas” (hitam) dan “nesos” (kepulauan). Sebagai satu kawasan Melanesia telah ada sejak berabad-abad.

Leluhur bangsa Melanesia menurut para ahli manusia modern awal. Manusia Melanesia migrasi dari Afrika dan menyebar ke kepulauan Melanesia hingga seluruh dunia.

Bangsa Melanesia memiliki ciri-ciri khas seperti kulit gelap, rambut keriting, dan tubuh pendek. Ciri budaya adalah orang yang berpindah-pindah. Masih dekat dengan alam. Teknologi belum campur dan dia belum memikirkan itu sebagai nilai budaya.

Gagasan Jalan Melanesia

Sekitar 1970-an di Pasifik Selatan lahir dari ide Bernard Narokobi solidaritas Melanesia yang tercermin dalam “Melanesian Way“. Semangat Melanesian Way (Jalan Melanesia) muncul di mahasiswa Universitas Papua New Guinea (PNG) di bawah tokoh gerakan Melanesian Way, Father John Momis dan Bernard Narokobi. Pemikiran Bernard Narakobi itu dimuat di beberapa koran lokal dan dikembangkan lagi oleh filsuf Melanesia.

Bernard Narokobi secara kultur telah mengidentifikasi secara jelas bahwa yang termasuk rumpun keluarga Melanesia, di kawasan Melanesia, Pasifik Selatan, yaitu West Papua (Papua Barat), PNG, Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, dan Fiji. Pulau-pulau tersebut dihuni oleh penduduk bukan Asia, Eropa, Afrika, Polinesia, dan bukan bangsa Melayu.

Narakobi mengemukakan, bahwa kepulauan Melanesia telah lama dijajah Eropa abad 16-18. Oleh sebab itu, negara-negara di kepulauan Pasifik Selatan yang belum merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara harus lepas dari kolonialisme. Sebab kemerdekaan PNG tanpa negara-negara Melanesia itu sama saja belum merdeka.

Hasil diskusi dan pergumulan pemikir-pemikir Melanesia, kemudian dibentuklah awal Melanesian Spearhead Group (MSG) pada sebuah pertemuan informal tahun 1986. Namun mencerminkan sebuah manifestasi penting ideologi melanesianisme dalam politik kawasan yang telah cukup lama berkembang (Artikel Stephanie Lawson, diterjemahkan Veronica Kusumayarti dan dimuat di situs www.sastrapapua.com).

Tujuan utama dari penegasan Jalan Melanesia dengan atau tanpa penjelasan yang cukup memadai tidak diragukan lagi adalah sebagai berikut:

“Berabad-abad lamanya, orang-orang Melanesia telah melihat diri mereka dari gambaran dan tulisan yang dibuat oleh orang asing. Orang-orang Melanesia sedang berjalan di bawah bayang-bayang para pengamat Barat, hidup di dalam visi dan mimpi yang diimpikan oleh orang Barat. Kalau tidak berhasil mendirikan dasar filsafat berdasar pada kearifan masa lalu, kita akan punah sebagai orang-orang yang berkualitas, berwatak dan yang memiliki dinamisme yang unik,” Bernard Narokobi.

Pernyataan Bernard itu juga menegaskan mengenai solidaritas dan persatuan kekeluargaan ras Melanesia berlandaskan satu keyakinan untuk kemuliaan kehidupan, pandangan hidup, dan kebudayaan orang Melanesia itu sendiri;

Kedua, Bernard mengingatkan kita pada humanity (kemanusiaan) yang berkualitas berwatak dan memiliki dinamisme yang unik. Beliau ingin mengatakan dengan tegas bahwa ras Melanesia tidak bisa diatur oleh siapa pun. Orang Melanesia mampu mengelola potensi kekayaan alam, membawa kemakmuran, sehingga harus keluar dari bayang-bayang orang asing.

Sebab keberadaan mereka itu bentuk penjajahan dan penghisapan yang harus dilawan oleh komunitas orang Melanesia itu sendiri. Agar pulau-pulau Melanesia bisa eksis dan berjaya dari bayang-bayang asing.

Pernyataan Bernard ini juga sebenarnya warisan titisan pesan-pesan kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur orang Melanesia, yang diringkas dalam gagasan Jalan Melanesia. Narakobi menaruh harapan besar bagi orang-orang di Melanesia untuk meneruskan pesan-pesan leluhur orang Melanesia di atas. Untuk membawa daerah-daerah di Melanesia yang hingga kini masih berada dalam daerah kolonial, untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Orang Melanesia telah menyadari, bahwa cara-cara negara adikuasa (barat) tidak akan membawa pertolongan bagi keberlangsungan hidup orang Melanesia. Hanya orang Melanesia itu yang bisa menentukan nasibnya sebagai solidaritas bangsa yang besar di muka bumi.

Bentuk dari mewarisi pemikiran leluhur Melanesia yang dirumuskan oleh Bernard Narakobi dalam Melanesia Way khususnya mestinya diresapi dan diajarkan kepada pemuda-pemudi di West Papua ataupun di wilayah Melanesia lain. Agar gagasan, falsafah hidup kemelanesiaan hidup dan terus diwacanakan melalui berbagai momentum dimanapun dan kapan pun.

Keseriusan dan kesungguhan memiliki identitas melanesia itu tentu akan mempercepat menemukan jalan Melanesia. Sebab di ujung Jalan Melanesia itulah surga kecil yang telah diimpikan oleh pendahulu Melanesia. Oleh sebab itu, ide mengenai Melanesian Way harus dijadikan gerakan bersama merawat solidaritas Melanesia tersebut. Gerakan inilah yang tidak bisa dihalangi oleh bangsa lain di dunia.

Untuk menuju ke sana telah digemakan oleh para pendahulu, tetapi yang menghambat adalah kebebasan selain letak geografis dan kekayaan alam.

Kemerdekaan bagi pulau-pulau Melanesia yang terjajah itu akan mematahkan mitos dan pandangan orang-orang Eropa terhadap orang Melanesia bahwa orang Melanesia terbelakang, primitif, sehingga mereka terus melakukan ekspansi hingga saat ini.

Gagasan Narakobi telah diperdebatkan dan dikembangkan dengan gerakan dan dalam tulisan para filsuf Melanesia, seperti Ton Otto, Nicholas Thomas Clive Moore, Tjibaou, dan di West Papua orang Papua mengembangkan pemikiran tersebut adalah Arnold Mampioper dan gerakan kebudayaan Arnold Ap, dll.

Perdebatan mereka mengenai Melanesian Way dimuat di beberapa tulisan, namun gagasan yang disampaikan Bernard Narokobi logis dan mampu meyakinkan pemimpin di kawasan Melanesia untuk mewujudkan visi tersebut.

Dukungan dari gagasan itu datang dari pimpinan negara Vanuatu setelah merdeka pada 1980. Perdana Menteri pertama Vanuatu, Walter Hadye Lini, menyampaikan, Vanuatu tak ‘kan sepenuhnya merdeka sampai seluruh Melanesia bebas dari kolonialisme. Didukung juga oleh Filsuf kelahiran PNG, Bernard Narokobi pada 1970-an, dengan gagasannya mengenai “The Melanesian Way” (tirto.id, 6 Februari 2019).

Manifestasi gerakan kultur kemelanesiaan di West Papua

Berdasarkan manifestasi politik kemelanesiaan bahwa West Papua adalah ujung tombak dari pulau-pulau di Melanesia. Gerakan politik di Melanesia itu termanifestasi dalam forum Melanesian Spearhead Groups (MSG). Termasuk kemerdekaan Papua merupakan misi besar agenda politik MSG.

Gagasan besar Melanesia itu kemudian dirumuskan oleh para founding fathers Melanesia yang dirumuskan dalam berbagai aspek kehidupan dan masih tampak hingga saat ini, bahwa orang Papua masih melakukan kontak, baik secara lisan maupun tertulis, dengan negara-negara Melanesia.

P.J. Drooglever dalam bukunya “Tindakan Pilihan Bebas” (hlm.  591) menuliskan bahwa hubungan dengan tetangga timur yang sudah bertahun-tahun merupakan satu pokok perhatian. Hal ini didorong oleh kerjasama Belanda-Australia di tahun-tahun yang lalu dan oleh pertemuan-pertemuan Komisi Pasifik Selatan sejak 1953.

Orang-orang Papua yang terkesan karenanya, berada di pihak Belanda itu adalah Nicholas Jouwe dan Marcus Kaisepo di pihak Australia, dapat disebut nama John Guise dan Ruben Taureka.

Pertemuan-pertemuan sudah menyadarkan mereka bahwa mereka merupakan bagian dari satu keseluruhan yang lebih besar. Kaisepo dalam turne-turne penerangannya akhir 1950-an sudah menunjukkan kesamaan-kesamaan antara penduduk Papua Belanda dan penduduk di wilayah-wilayah yang letaknya di timur.

Pemahaman ini mempunyai implikasi-implikasi politik dan para pemimpin Papua peka untuk itu. Satu berjalan bersama dalam ikatan Melanesia secara eksplisit di dalam program DVP. (P.J Drooglever, 591).

Pemikiran Bernard Narokobi mengenai “Melanesian Way” juga berpengaruh di Papua. Pada 1978, antropolog Arnold Ap membentuk grup musik Mambesak yang menyuarakan aspirasi Melanesia orang Papua sebagai bentuk perlawanan terhadap Indonesia. Kemudian Ap dibunuh oleh Kopassandha (kini Kopassus) pada 1984.

Lalu, Thomas Wanggai memproklamasikan “Melanesia Barat” pada 1988. Atas perbuatannya, Wanggai dipenjara. PNG, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon menandatangani Prinsip Kerja Sama Antar Negara Merdeka Melanesia pada 1988. Kesepakatan ini menandai terbentuknya MSG. Setahun berikutnya, FLNKS resmi menjadi anggota MSG, disusul kemudian oleh Fiji pada 1996 (tirto.id, 6 Februari 2019).

Arnold Mampioper (1987) dalam bukunya “Samudra Pasifik Dalam Strategi Pertahanan dan Keamanan” menulis, negara-negara adikuasa melakukan ekspansi di pulau-pulau besar di Melanesia, maka gerakan bersama, solidaritas orang Melanesia harus dihidupkan kembali. Daerah-daerah jajahan di wilayah Pasifik–Melanesia dan Polinesia harus dihapuskan.

Biarkan  orang-orang Melanesia melakukan perdagangan bebas secara regional di Pasifik dan Melanesia untuk keberlangsungan hidup yang damai.

Negara-negara adikuasa melakukan ekspansi di pulau-pulau besar di Melanesia, pada abad 17-18 untuk mengeksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) sekaligus menyebarkan agama. Tapi juga mereka melakukan ekspansi untuk mengeksploitasi SDA, terutama di regional Melanesia.

Tahun 2004 negara Indonesia mengklaim bagian dari Melanesia sehingga memaksakan lima provinsi di Indonesia bagian timur (Maluku, Maluku Utara,  NTT, Papua, dan Papua Barat) sebagai anggota MSG.

Lalu pada 26-30 Oktober 2015 digelar Festival Melanesia di Kupang, ibu kota NTT, yang dihadiri Indonesia, Fiji, PNG, Timor Leste, Kaledonia Baru dan Kepulauan Solomon. Indonesia ketika itu diwakili lima provinsi yang disebut Melanesia Indonesia (Melindo).

Secara kultural, Maluku dan NTT adalah bagian dari ras yang beragam seperti yang dicirikan pada bangsa Polinesia dan Mikronesia, tapi bukan Melanesia.

Bernard Narakobi telah mengidentifikasi secara jelas bahwa yang termasuk rumpun keluarga Melanesia, di kawasan Melanesia, Pasifik Selatan, yaitu West Papua (Papua Barat), PNG, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, dan Fiji.

Indonesia mengklaim Melanesia kalau hanya Papua masih masuk akal. Sebab Papua masih berada dalam wilayah Indonesia. Tetapi kalau ditambah dengan NTT, Maluku, dan Maluku Utara itu hanya cerita di siang bolong. Sebab dalam karakteristik, kebudayaan, falsafah hidup orang-orang Melanesia berbeda dengan NTT dan Maluku.

Dalam berbagai gerakan anak-anak muda di NTT dan Maluku tidak serius membicarakan identitas melanesia. Berbeda dengan West Papua. Mereka mendiskusikan dengan serius di warung kopi, sekolah, kampus, asrama, dan menjadikan gerakan kemelanesiaan sebagai gerakan suci menuju Jalan Melanesia itu sendiri.

Orang muda dan gerakan kemelanesiaan

Gerakan Melanesia di Papua tumbuh subur bukan karena keterpaksaan, dibayar atau disuap. Spirit Melanesia dan kemelanesiaan itulah yang terpatri abadi. Gagasan mengenai Melanesia tidak pernah redup. Gerakannya semakin meluas dan diteruskan oleh generasi muda itu sendiri.

Hal itu dipicu karena semangat kekeluargaan dan solidaritas untuk mencapai kemakmuran bersama. Hingga kini gagasan-gagasan “The Melanesian Way” masih eksis.

Wujud dari eksistensi kemelanesiaan itu dijabarkan dengan berbagai varian. Misalnya gerakan kebudayaan; seni tari, seni musik, nama jalan, nama wilayah nama organisasi, bahkan kata Melanesia dijadikan sebagai nama orang. Selain itu, di stiker-stiker, baju,  mobil-mobil dan motor, dsb.

Bagi penulis gagasan Melanesian Way terus menyatukan generasi muda melanesia untuk terus berjuang. Sebab keyakinan bahwa “The Melanesian Way” terus diwujudkan dengan perasaan memiliki sebagai keluarga besar. Bukan karena politik semata, kemudian merusak solidaritas kemelanesiaan itu.

Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda/i Melanesia lainnya, bahwa sebagian negara Melanesia sudah merdeka, namun tugas mereka yang merdeka berjuang memerdekakan wilayah Melanesia yang masih berada dalam daerah jajahan. West Papua, Bougenville, dan Kanaky belum bebas.

Praktik kolonialisme eksploitasi SDA dan membangun pelabuhan, pangkalan militer di abad 21 negara-negara asia, Eropa masih eksis di negara kepulauan pasifik selatan dengan misi eksploitasi SDA. Ditambah dengan persoalan kemanusiaan HAM di West Papua yang terus terjadi tanpa ada solusi. Kesenjangan sosial, kesejahteraan di persimpangan jalan.

Persoalan serius ini akan terus menjadi peluru bagi generasi muda Melanesia melakukan perlawanan dengan semangat identitas kemelanesiaan yang semakin kuat. Generasi muda merawat Jalan Melanesia sebagai jalan suci menuju ke taman yang permai. (*)

Penulis adalah jurnalis Jubi.co.id dan koordinator Komunitas Sastra Papua (Kosapa)

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top