Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Widodo: Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia sangat penting

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Balai Bahasa Sulawesi Utara (Sulut), Supriyanto Widodo, yang menjadi salah satu narasumber pada penyuluhan Bahasa Indonesia untuk para pekerja media di Kota Jayapura, yang diadakan Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, mengatakan kaidah ejaan Bahasa Indonesia cukup penting dalam penerapan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terkait cara penulisan sebuah berita yang akan di-publish.

"Secara umum, orang menganggap bahwa ejaan berhubungan dengan melisankan bahasa. Hal ini terjadi karena orang terikat pada arti mengeja kata atau nama yaitu menyebutkan huruf demi huruf pada kata atau nama tersebut," kata Supriyanto di sela-sela kegiatan, Selasa (8/8/2017) di Aula Balai Bahasa Papua dan Papua Barat.

Dikatakan, di dalam bahasa, sebetulnya ejaan berhubungan dengan ragam bahasa tulisan. Ejaan adalah cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf dan tanda baca. Di dalam perkembangannya, bahasa Indonesia pernah menggunakan beberapa macam ejaan. Mulai tahun 1901, penulisan bahasa Indonesia dengan abjad latin mengikuti aturan ejaan yang disebut Ejaan van Ophuysen.

"Ejaan van Ophuysen ini dimuat dalam kitab logat Melajoe tahun 1901. Buku ini disusun dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Peraturan ejaan itu digunakan hingga bulan Maret 1947, yaitu ketika dikeluarkannya peraturan ejaan yang baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan ejaan baru ini disebut Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi," ujarnya.

Supriyanto yang juga mantan Kepala Balai Bahasa dan Papua Barat menambahkan, bahasa Indonesia menggunakan ejaan yang disebut ejaan yang disempurnakan (EYD), yang mulai digunakan pada Agustus 1972, setelah diresmikan dalam pidato kenegaraan Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1972. 

"Pedoman Umum EYD juga telah berkali-kali diperbaharui, terakhir dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 50 tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)," katanya.

Loading...
;

PUEBI itu sendiri, menurut Supriyanto, juga dalam kaidah ejaan bahasa Indonesia diatur mengenai pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan dan tanda baca. pada PUEBI sistematiknya sedikit berbeda dengan EYD. Pada PUEBI sistematiknya secara garis besar mengenai pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan.

"Terkait dengan pemakaian huruf, kita perlu perhatikan huruf-huruf seperti f, v, q, x, y dan z. Karena huruf-huruf tersebut kadang sering salah dalam pemakaiannya. Misalnya huruf f dan v sering diganti dengan huruf p. Contohnya kata negatif menjadi negatip, Februari menjadi Pebruari dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, huruf q dan x dalam ejaan pemakaiannya sangat terbatas dan hanya dipakai pada kata Quran, qari atau qariah, sedangkan pada umumnya masyarakat menggunakan kata akuarium, takwa, kualitas, kuis dan frekuensi ditulis dengan 
huruf k bukan q.

Salah satu peserta Wahyu Tegus dari media Bisnis Papua menilai, penyuluhan bahasa Indonesia cukup penting apalagi memahami tentang beberapa huruf yang sepestinya tidak digunakan namun dipaksakan untuk digunakan seperti huruf z.

"Huruf z ini sering kita gantikan dengan huruf j atau s, misalnya izin menjadi ijin, ijazah menjadi ijasah dan zaman menjadi jaman," katanya. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top