Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

YPK akan terapkan Sistem Belajar Kontekstual Papua di masa pandemi Covid-19

papua-jan-ihalauw-ypk
Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Provinsi Papua, Jan Ihalauw – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Di masa pandemi Covid-19 ini, Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Papua berinovasi menerapkan format pembelajaran Sistem Kontrak Merdeka Belajar Kontekstual Papua.

Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Provinsi Papua, Jan Ihalauw, saat ditemui Jubi di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura-Papua, Jumat (31/7/2020), mengatakan YPK sementara tidak akan menerapkan sistem pembelajaran tatap muka dan mengubahnya dengan sistem pembelajaran daring atau online.

YPK, kata Ihalauw, akan membuat cara khusus menggunakan metode kontrak merdeka belajar kontekstual Papua.

YPK akan terapkan Sistem Belajar Kontekstual Papua di masa pandemi Covid-19 1 i Papua

“Konsep ini gabungan dari pembelajaran daring dan luring. Pembelajaran ini bisa digunakan melalui daring juga. Kami harus menyadari bahwa tidak semua orang-orang Papua fasih dalam menggunakan Android. Itu persoalan yang dihadapi di pinggiran kota sampai di kampung-kampung,” katanya.

Ihalauw menambahkan materi dalam sistem kontrak merdeka belajar kontekstual Papua disiapkan dengan menggunakan dialek Papua.

“Sehingga siapapun yang yang mengikuti materi mereka mudah memahami. Kami berbuat demikian karena mayoritas sekolah-sekolah YPK itu diisi oleh orang asli Papua yang berada di kampung-kampung,” katanya.

Lanjut Ihalau, dalam sistem kontrak merdeka belajar kontekstual Papua ini akan dilengkapi juga dengan buku guru dan buku siswa.

Loading...
;

“Guru harus mempunyai RPP dan silabus. Kalau sudah dilengkapi maka dilengkapi juga dengan  buku guru dan buku siswa, baru bisa membuat ini. Tanpa itu tidak bisa,” katanya.

Ihalauw menambahkan pihaknya menerapakan sistem kontrak merdeka belajar kontekstual Papua untuk mempermudah orangtua. Sebab, kalaupun orangtua fasih dalam menggunakan Android, tentu mereka membutuhkan uang begitu besar.

“Pembelajaran daring ini selama satu semester, artinya orangtua harus menyiapkan uang selama enam bulan untuk membiayai pulsa dan kebutuhan lainnya. Sistem pembelajaran harus berjalan. Tanggung jawab kita adalah bagaimana menyediakan sarana prasarana agar proses pembelajaran itu tidak berhenti. Apapun caranya daring atau luring,” katanya.

Ihalauw mengatakan sistem kontrak merdeka belajar kontekstual Papua dikonsepkan dengan maksud agar siswa siswi dipermudah dalam belajar, bisa dimana saja, baik secara daring maupun luring.

“Yang menjadi pokok ialah proses belajar mengajar harus berjalan tidak boleh tidak. Kalau anak-anak belajar di rumah peran orangtua sangat penting,” katanya.

Ihalauw menjelaskan di Kota Jayapura hanya sekitar 30 persen orangtua yang bisa membiayai anak-anak untuk mengikuti sekolah daring. Sekitar 70 persen sisanya tidak bisa memfasilitasi anak-anaknya untuk belajar daring.

“Kalaupun bisa anak-anak akan belajar terhambat karena faktor jaringan. Kesiapan orangtua dalam menghadapi berbagai macam aplikasi termasuk juga bagaimana anak ini menyesuaikan dengan aplikasi kemudian belajar di kelas online,” katanya.

Pertimbangan lain terkait jumlah mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa-siswi.

“Bayangkan untuk satu anak ada 12 mata pelajaran. Coba bayangkan betapa besar biaya yang harus disiapkan oleh orangtua. Kalau dalam suatu keluarga mempunyai dua anak, satu orang SMP dan satu orang SMA, coba bayangkan ada dua 24 mata pelajaran yang mereka akan pelajari dan orangtua harus menyiapkan pulsa sebanyak itu. Kami YPK melihat bahwa ini peluang yang harus dilakukan oleh pihak sekolah untuk menerapkan kontrak merdeka kontekstual Papua,” katanya.

Baca juga: Sistem belajar ‘Maturtamu’ ala SMP YPK Nabire, Papua di era Covid-19

Sebelumnya, Ketua Pengurus Sekolah Wilayah (PSW) YPK Nabire-Papua, Barnabas Watofa, mengatakan YPK Nabire masih menunggu keputusan Pemerintah Provinsi Papua yang menunda kegiatan belajar mengajar hingga 31 Juli 2020.

Termasuk penerapan sistem “Maturtamu” “Mandiri, Tutorial, Tatap Muka” di sekolah YPK, karena akan ada tatap muka 20 persen atau empat jam pertemuan di sekolah YPK wilayah kota.

“Rencananya jam tatap muka dibagi tiga bagian sehingga tetap dua jam pertemuan setiap satu mata pelajaran, tentu tatap muka harus melaksanakan protokol kesehatan,” ujarnya.

Selain itu di sekolah tidak boleh membuka kantin dan siswa membawa bekal dari rumah. Tidak ada jam bermain di sekolah dan selesai pertemuan siswa harus langsung pulang.

Sekolah juga harus menjaga jarak dengan satu kelas cuma 15 kursi untuk 15 anak. Jika satu kelas 30 siswa maka akan dibagi dua sesi.

Karena belum ada petunjuk lanjutan dari pemerintah daerah terkait sistem belajar di era pandemi, YPK Nabire untuk sementara akan menerapkan model “Maturtamu” mulai semester ini.

“Kami harapkan ada masukkan dari masyarakat dan juga dari Tim Covid-19 sehingga kita bisa mendapatkan model yang lebih pas lagi mengingat di setiap sekolah pasti berbeda,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top