Yulius, anak Marind-Papua yang fasih bahasa Jawa

papua-yulius-1
Yulius Bahari S, orang Marind Papua yang fasih Bahasa Jawa – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Nama Yulius Bahari S, anak kelahiran Kampung Toray, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua menjadi viral di media sosial beberapa minggu terakhir. Anak Marind-Papua ini sangat fasih (lancar) berbahasa Jawa.

Kini Yulius  sedang membanting tulang menggeluti profesi sebagai penjual buah berkeliling  dalam wilayah kota Merauke dan sekitarnya. Dia biasa menggunakan sepeda menyusuri ruas jalan, mencari rupiah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat ditemui Jubi, Rabu (16/12/2020), Yulius mengaku tak mengetahui siapa orangtuanya. Karena setelah tiga hari lahir di Kampung Toray, langsung diambil oleh Yance Supusepa dan Theodora Mahuze, dan dibawa ke lokasi eks transmigrasi di Kampung Angger Permegi, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

“Jadi saya juga tak tahu siapa orangtua saya. Karena baru tiga hari lahir, diambil dari Kampung Toray dan dibawa ke Jagebob. Jadi Bspa Yance dan Mama Theodora seperi orangtua kandung, karena merawat saya dari bayi sampai besar,” ungkapnya.

Yulius mengaku dirinya sangat fasih (lancar) berbahasa Jawa karena sejak kecil tinggal di lingkungan orang Jawa di Kampung Angger Permegi.

“Memang sejak sekolah dasar (SD) saya sudah menguasai bahasa Jawa. Karena ke sekolah maupun bermain setiap hari dengan anak-anak jawa di lokasi eks transmigrasi,” ungkapnya.

Sehingga, lanjut dia, sampai sekarang dialek bahasa Jawa sangat kental. Ironisnya, Yulius sama sekali tak menguasi bahasa Marind.

Loading...
;

Dikatakan, setelah menamatkan sekolah di bangkus SD dan SMP di Jagebob, ia melanjutkan studi di SMAN II Merauke dan tamat tahun 2005 silam. Setelah tamat, sempat berniat mengikuti testing tentara, hanya dilarang orangtua angkatnya.

Dari situ, katanya, ia bekerja sebagai buruh bangunan, bengkel motor, hingga mengola lahan persawahan dan beberapa pekerjaan kasar lain. Sementara kegiatan berjualan buah-buahan keliling, baru sebulan terakhir dijalaninya.

“Kebetulan teman saya memiliki usaha jualan buah-buahan di jalan Parakomando. Lalu saya mendatanginya dan meminta bisa bekerja di situ. Lalu direspons baik dan mereka menyiapkan satu unit sepeda untuk jualan buah keliling kota,” katanya.

Baca juga: HIPPAM Merauke soroti aroma sampah di Pasar Wamangggu

Dengan modal sepeda itu, setiap hari menyusuri ruas jalan dalam wilayah kota dan sekitarnya dengan membawa buah-buahan seperti apel, semangka, dan lain-lain untuk ditawarkan dari rumah ke rumah.

“Setiap pagi dari pukul 08.00 saya sudah ada di tempat jualan teman itu dan mengambil beberapa jenis buahan sekaligus dibawa untuk dijual. Nanti uang hasil penjualan, saya serahkan baru  dihitung prosentase,” ungkapnya.

Untuk buah-buahan yang dibawa dan dijual, menurutnya, bervariasi. Misalnya, apel satu kilo 50.000/kg. Pendapatan yang didapatkan tak menentu, namun bisa mencapai ratusan ribu tiap hari.

Pria kelahiran 1 Juli 1986 itu mengaku tak mempunyai niat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi (PT). Ia sudah senang dengan pekerjaan berjualan buah keliling. Karena banyak orang dikenal dan menjadi teman.

“Saya senang dengan pekerjaan ini, lantaran sisi positif sangat banyak didapatkan,” katanya.

papua-yulius
Yulius Bahari S sedang menunjuk buah-buahan yang siap dijual keliling kota Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Sehari pendapatan Rp2 juta

Sementara teman  Yulius, Sitti, yang ditemui di tempat usaha jualan di Jalan Parakomando mengakui kalau beberapa pekan terakhir, nama temannya itu viral di media sosial.

“Betul, Yulius teman saya di SMAN 2 Merauke. Sebulan lalu dia datang menanyakan mungkin ada pekerjaan yang bisa dilakukannya,” kata dia.

“Lalu saya bilang kalau mau jualan buah, silakan saja, dan dia dengan senang hati menerima. Sehingga kami menyiapkan sepeda dan memberikan kepadanya untuk membawa buah-buahan untuk dijual,” ungkapnya.

Sejak namanya viral, buah-buahan yang dibawa laris manis. Pendapatan yang didapatkan tiap hari tembus sampai Rp2 juta. Jika dibandingkan sebelumnya, uang yang disetorkan antara Rp500-600 ribu.

“Betul, tiap pagi dia datang di sini mengambil beberapa jenis buah-buahan. Lalu sore kalau

tak laku dibawa pulang ke sini, sekaligus menyetor uang penjualan dan saya bagi sesuai kesepakatan,” ungkapnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top